“Beb, loe apa apain sih!” ujar Bernad pada Beb yang membuat Pupung tertawa lalu meledek,

“Dia mau jadi yulietnya loe, Nad! Hahahah.”

Beb terlihat tersipu malu. Namun dia sangat senang dengan apa yang dikatakan Pupung.

Sementara itu Pupung melirik Fifie menatap tak percaya. Goresan wajah Fifie sangat jelas menyimpan kecemburuan. Akhirnya, Pupung berinisiatif kembali berkaroke.  Bernad langsung mengangkat pantatnya dari kursi menjauh dari Beb. Fifie yang kesal dengan pemandangan mesra Tedi dan Kalingga ia pun kembali berkaroke.

Sementara itu Tedi terus mencari kesempatan menebar pesona pada Kalingga. Walau Kalingga sering menyelanya atas primbon yang digeluti Tedi karena menurutnya banyak yang tidak masuk logika, memicu Tedi untuk merengkuh Kalingga dalam cintanya.

“Bagaimana kalau kita jalan jalan keluar? Kita marathon?” Ajak Tedi.

Mendengar kata marathon, bagai tersengat tawon, Kalingga langsung berdiri. Dan menarik tangan Tedi untuk keluar dari pintu belakang. Lalu merekapun berlari  berkejaran di atas trotoar jalan raya. Tedi terlihat kelelahan dan nafasnya  terengah engah sementara Kalingga sudah meninggalkannya jauh. Akhirnya Tedi berteriak memanggil Kalingga sambil melambaikan tangannya. Kalingga berhenti berlari dan menengok pada Tedi. Ia pun  tertawa melihat Tedi kayak ayam sayur.

“Gue nyerah!”  Kata Tedi sambil terbatuk batuk. Lalu mengajak Kalingga untuk duduk di trotoar. Merekapun selonjoran tanpa pedulikan lalu lalang motor yang melihatnya.

“Trus kita sekarang mau kemana?” Tanya Kalingga setelah mereka selonjoran di trotoar.

“Kemana aja yuk. Tuh ada taxi. !” Ajak Tedi. Kalingga sepakat karena lama kelamaan risih juga dilihat orang yang lalu lalang itu.Tedi pun langsung menyetop taxi dan mengajak Kalingga segera naik. Bagai kerbau dicucuk hidung, Kalingga menaiki taxi itu.  Namun setelah mereka berdempetan duduk di kursi belakang dalam taxi, tak ada kata terucap. Menerobos isi kepala mereka, rupanya mereka sama sama sedang bergumul dengan kata dan tidak bisa terlepas dari mulut. Kata kata dalam kepala rasanya sangat sulit mencari celah menuju kerongkongan. Akhirnya hanya jari jemari Tedi yang beraksi memainkan jemari Kalingga. Mulanya Kalingga  menarik tangannya itu namun Tedi kembali menariknya lalu mengelus punggung tangan lembut Kalingga. Seperti ada sesuatu yang menyetrum dalam diri Kalingga ia pun hanya dapat terdiam dan membiarkan Tedi mengelus punggung tangannya.

Sampai taxi itu berhenti di salah satu mall yang di tuju, tak ada kata terucap diantara keduanya. Barulah ketika supir taxi mengatakan sudah sampai tujuan,  Tedi maupun  Kalinggap masing masing menarik tangannya lalu  saling tatap.

secara bersamaan bertanya:

“Mau kemana kita?”  Mereka sama sama bermimik lucu. Lalu tertawa.

“Nonton?” Tedi menawarkan.

“sepagi ini? Mall aja masih tutup. hahaha”

“Oh iya, tukang bioskopnya juga masih tidur. hahahaha”

“Jadi pada mau kemana?” Supir menyela.

Kalingga dan Tedi berpikir. Mereka memang tak ada tujuan. Asal naik taxi yang lewat. Namun Kalingga memberi inisiatif untuk berjalan kaki saja. Merekapun turun dari taxi dan berjalan tanpa tujuan. Namun tiba tiba  dari kejauhan mata Kalingga melihat banyak pedagang  di bawah flay over, Kalingga pun mengajak jalan cepat Tedi untuk melihat keramaian pasar tradisional yang fenomenal karena berada di jantung kota dan meluber ke bawah flay over.

“Hah? Ling, loe masih waraskan?” Tedi menghentikan langkah Kalingga dan menempelkan punggung tangannya ke kening Kalingga.

“Ih, apa apaan sih. “ Kalingga menepis tangan Tedi.

“Gue masih waras. Salah gitu kalau masuk ke pasar tradisional? “ Lanjut Kalingga dengan suara tinggi.

“Sory sory.. bukan begitu maksud gue.. gue Cuma bercanda kok..”

Tedi mengeles. Sesungguhnya dia tadi memang mengkhawatirkan keadaan Kalingga yang menurutnya aneh, jalan jalan ke pasar tradisional. Bukan ke Mall. Yang namanya pasar tradisional pastinya banyak ikan yang mengundang lalat. Dan terbayang aroma yang tak sedap.

“Kita belanja tidak harus di mall kan?” kata Kalingga

“Oh ya, ya. “ Tedi menjawab sambil memaksakan tersenyum

“Pasar ini menjual berbagai macam dagangan seperti pasar tardisional pada umumnya, namun lebih lengkap. Harganya tentu lebih murah dari yang ada di Mall”

“Trus kita mau beli apa, Ling?”

“kita beli buah buahan bagaimana? Pastinya lebih segar dari mall.”

“Baiklah…” Tedi mengikuti saja apa yang diinginkan Kalingga. Yang penting dia masih waras. Bathin Tedi.

Kalingga memilih apel merah yang ia suka selain bentuk dan warnanya menggoda rasanya manis dan renyah kalau di gigit. Setelah mendapatkan dua buah apel yang  segar, mereka  berjalan menyusuri pasar sambil makan apel yang dibelinya.

“Kenapa sih kita tidak ke sebuah pasar tradisional yang  memiliki bangunan yang sangat mendukung kenyamanan para pembeli saat berbelanja, dengan konsep indoor dengan kios terjajar dengan pembagian blok pedagang yang rapi?”

“Ampun deh. Loe cerewet amat. Kayaknya terkenal cerewet tuh perempuan!

Kita kesini bukan buat belanja kayak ibu ibu yang pakai daster itu. “ Kalingga menunjuk ibu ibu berpakaian daster membawa keranjang yang sudah penuh dengan belanjaan hingga ia tergopoh gopoh membawanya.

“ Anggap kita bakar kalori sambil  wisata di pasar. Dan dari pada loe ngoceh yang buat kuping gue panas, mending makan apel ini aja!” Kalingga memberikan apel yang baru dibelinya tadi. Kemudian mereka terus berjalan dikeramaian pasar dengan bau berbagai rasa. Bau pasar tradisional yang  mempunyai sensasi tersendiri, kini dinikmati dengan enjoy oleh Tedi. Dan sambil berjalan mereka mengunyah apel hingga kadang menjadi sebuah pemandangan penghuni pasar. So, penampilan mereka beda, tidak seperti kebanyakan orang yang datang ke pasar untuk berbelanja. Bahkan dalam langkah kakinya, mereka hanya melihat lihat saja sambil makan apel dan kadang berjalan dengan canda serta tawa. Barulah ketika mereka melihat penjual ketupat sayur, Tedi menghentikan langkahnya dan mengajak Kalingga makan ketupas sayur.  me

“Sepertinya asyik nih makan ketupat sayur. “ Ujar Tedi.

“ Cerdas loe. Anggap kita sedang wisata kuliner ya. Hahaha “  jawab Kalingga sambil langsung menuju tukang ketupat sayur gerobak. Disana terdapat tempat duduk memanjang yang terbuat dari kayu namun terlihat  sudah terisi penuh. Tapi  bukan sebuah halangan untuk mereka. Mereka tetap beli dan makan sambil berdiri. Baru beberapa sendok Tedi makan, hp berdering. Ternyata dari Fifie dan video call. Tedi pun memamerkan ketupat sayur nya lalu Kalingga yang sedang lahap makan ketupat sayur campur telur. Entah mengapa Fifie langsung mematikan video call nya. Tedi tak peduli ia langsung lanjut makan ketupat sayur.  Setelah ketupat sayur bersih di piring, Kalingga kembali mengajak Tedi marathon tanpa arah tujuan. Yang penting kalori kembali terbakar.

Sedang asyiknya  berduaan marathon diantara bisingnya kendaraan, sebuah mobil mengklason dengan kencang. Tedi dan Kalinggapun bermarathon agak meminggir walau sudah di atas trotoar. Namun klakson mobil terus berbunyi memekakan telinga. Tak lama suara ngebas Bernad memanggil mereka. Kalingga dan Tedi pun menghentikan jalannya. Ternyata mobil tersebut dikemudikan Pupung dan di belakangnya terlihat Fifie serta Beb duduk. Bernad langsung buka pintu mobil dan turun menghampiri mereka.

“Nyet, loe kalau mau keluar bilang! Jangan buat kita kita panik!” Semprot Bernad ke Tedi.

“Sory , sory bro.. gue  ajak Kalingga keluar untuk mendapat suasana baru.” Jawab Tedi.

“Nggak ada masalah loe ajak Kalingga, tapi bilang nyet!” Pupung yang datang kemudian pun marah dan langsung meninju Tedi kemudian Bernad mengikutinya. Namun Fifi segera melerai mereka.

“Eh, apa apaan sih. Kalau mau jadi petinju, di atas ring aja!”

“Minggir loe Fie, sesekali dia kita kasih pelajaran.” Bernad sekali lagi meninju Tedi yang pasrah akan kemarahan teman temannya itu.

“Sudah udah, semua salah gue. Gue minta maaf.” Kalingga yang sejak tadi diam saja ikut bicara. Mendengar Kalingga bicara semua terdiam. Aslinya Kalingga sudah kembali. Dan mereka masih hormat pada sang ketua.

“Dari pada ribut yuk kita marathon aja.” Ajak Kalingga.

“Benar juga. Sudah lama kita nggak marathon.”

Jawab Fifi.

“Ok, Nad?” Kalingga bertanya pada bernad yang masih tampak kesal.

“Kesel loe akan hilang kalau kita marathon!” Lanjut Kalingga.

“Iya bener kata Kalingga.” Beb menyambar.

“Okelah..siapa takut?” akirnya Bernad tak dapat mengatakan tidak.

“Horeeee..” Beb girang.

“Loe jangan geer deh, Beb!”

“Trus mobil bagaimana?” Pupung yang bawa mobil bingung.

“Loe bawa aja sampai taman, parkir disana. Trus nyusul kita kita ya.”

Pupung hanya dapat menggaruk garuk kepala lalu melajukan mobilnya ke taman sementara Kalingga, Tedi, Bernad, Beb dan Fifie berlari berkejaran. Kembalinya Kalingga, kembalinya keceriaan diantara mereka.

Bersambung……