Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) mengatakan, harga jagung saat ini masih stabil tinggi. Pasokan yang relatif terbatas jadi pemicunya.

Menurut Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia Sholahuddin, harga jagung saat ini sekitar Rp 4.300-Rp 4.700 per kg di tingkat petani dan sekitar Rp 4.500-Rp 5.000 per kg di tingkat industri pakan ternak.

“Harga jagung yang ideal sekitar Rp 3.700-Rp 4.000 per kg, paling mahal Rp 4.500 per kg. Tapi sekarang di Jakarta harga jagung sudah mencapai diatas Rp 5.000 per kg untuk pakan ternak,” lanjutnya kepada Kontan.co.id, Minggu (21/10).

Kenaikan harga jagung disebabkan suplai yang berkurang karena saat ini di bulan Oktober-Desember sudah memasuki bulan untuk tanam jagung.

“Memang bulan ini kita baru persiapan tanam dan panen raya sekitar Februari-Maret 2019. Tapi saat ini masih ada panen di lahan-lahan yang kemarin di bulan Juli di tanam. Sekarang panen ada tapi tidak banyak,” ujar Sholahuddin.

Untuk mengatasi suplai yang kurang saat ini, industri pakan ternak seharusnya memiliki kapasitas persediaan jagung minimal 3 bulan. Karena Indonesia rata-rata 60% lahan jagung berada di lahan kering.

“Tanpa adanya sistem persediaan yang dimiliki industri pada bulan-bulan seperti ini, dimana musim tanam baru dimulai dan harga pasti akan naik. Suplai juga sedikit karena baru tanam dan jagung baru panen sekitar 4 bulan lagi,” ujar Sholahuddin.

Sholahuddin menjelaskan, diperkirakan harga jagung stabil tinggi akan terjadi sampai akhir tahun karena suplainya sedikit dan akan mulai turun sekitar bulan Januari.

Sementara itu, Ketua Peternakan dan Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton J. Supit menjelaskan, kenaikan harga jagung mempengaruhi industri perunggasan.

Pasalnya, sekitar 50% komponen bahan baku pakan ternak dari jagung, sehingga berpengaruh kepada harga jual unggas termasuk ayam.

“Saat ini harga ayam lagi belum baik, karena suplainya banyak, tapi bahan bakunya kurang. Sangan riskan kalau industri sebesar ini di mana produksi ayam secara nasional sekitar 60 juta ekor per minggu harus menunggu panen,” lanjutnya.

Anton berpendapat, untuk mengatasi hal tersebut bisa dengan menambah suplai jagung. Bisa dengan impor jagung untuk memenuhi kebutuhan, kalau produksi di dalam negeri tidak mencukupi.